Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apakah Hukum Melaksanakan Aqiqah Bagi Yang Tidak Mampu, Berikut Jawaban Lengkapnya

Daftar Isi [Buka]

Aqiqah merupakan ibadah sebagai bentuk rasa syukur setelah kita diberikan karunia anak oleh Allah SWT. Bentuk rasa syukur ini di lakukan dengan memotong kambing atau domba dan dibagikan kepada sesama muslim. Dikarenakan Aqiqah ini membutuhkan biaya, yang jadi pertanyaan adalah apakah hukum melaksanakan aqiqah bagi yang tidak mampu?


Apakah Hukum Melaksanakan Aqiqah Bagi Yang Tidak Mampu
Apakah Hukum Melaksanakan Aqiqah Bagi Yang Tidak Mampu


Pada kesempatan kali ini Aqiqah Abah Husein Cilacap akan menjabarkan informasi ini yang diambil dari berbagai literatur. Untuk itu mari simak pembahasan dari pertanyan apakah hukum melaksanakan aqiqah bagi yang tidak mampu.


Apakah hukum melaksanakan aqiqah bagi yang tidak mampu?


Jawabannya: 

Aqiqah itu sunah muakkadah (ibadah sunat yang benar-benar ditegaskan-red) bagi orang yang mampu untuk melakukan, yakni pemotongan dua ekor kambing bila bayinya laki dan seekor kambing bila bayinya wanita. Terbagus, hewan-hewan itu disembelih di hari ke-7 dari hari kelahiran bayi yang diaqiqahi.


Misalkan, lahir di hari Selasa, karena itu diaqiqahi pada pada senin berikutnya; Bila hari Jum'at, karena itu hari Kamis diaqiqahi dan demikian selanjutnya. Bila tidak dapat melakukannya di hari ke-7 , karena itu di hari ke-14; Bila di hari ke-14 tidak dapat, karena itu dikerjakan di hari ke-21; Bila di hari itu tidak dapat, karena itu kapan pun dapat dikerjakan. Tersebut opini beberapa Ulama pakar fikih.


Apakah hukum melaksanakan aqiqah bagi yang tidak mampu? Bila orangtua tidak memliki kekuatan untuk melakukan di hari itu, karena itu kewajiban melaksanakan aqiqah itu jadi luruh. Karena aqiqah disyari'atkan bagi beberapa orang yang mempunyai kekuatan dari segi finansial dan tenaga. Adapun beberapa orang yang tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan, karena itu ia tidak dibebani untuk melakukan sampai dia mampu secara finansial, seperti firman Allâh Azza wa Jalla :


فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ


Karena itu bertakwalah kamu ke Allâh menurut kesiapanmu [At-Taghâbun/64:16]


Dan firman-Nya:


لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا


Allâh tidak memberatkan seorang tetapi sesuai kesiapannya. [Al-Baqarah/2:286]


Jadi orangtua yang telah wafat itu dan mempunyai anak-anak yang belum diaqiqahi, karena itu kita saksikan kondisinya:


Bila ia terhitung beberapa orang yang memeliki kesusahan dalam permasalahan ekonomi hingga ia tidak dapat mengaqiqahi anak-anaknya, karena itu anak-anak itu tidak mempunyai kewajiban untuk mengqadha' penerapan aqiqah itu, karena orangtua mereka saat itu tidak terserang beban syari'at ini.


Bila ia (saat hidupnya-red) terhitung beberapa orang yang kaya, namun ia tidak mengaqiqahi anak-anaknya karena menyepelekan syari'at ini, karena itu ini bergantung kondisi dan persetujuan pewarisnya. Tujuannya, bila antara pewarisnya ada yang mempunyai kebatasan akal, keterbatasan psikis atau ada yang belum baligh, karena itu sisi mereka tidak bisa diambil untuk melaksanakan aqiqah ini.


Bila semua pewarisnya mursyidûn (berpikiran sehat dan mempunyai kekuatan untuk mengurus hartanya dengan baik-red) lalu mereka ingin dan setuju untuk menjalankan aqiqah itu dengan memakai harta peninggalan orangtua mereka, karenanya tidak apapun.


Bila itu tidak terjadi lalu masing-masing dari anak-anak itu berkemauan untuk mengaqiqahi diri sendiri sebagai wakil dari orangtua mereka atau sebagai qadha' dari kewajiban orangtua mereka, karenanya tidak apapun.


Ada pendapat lain mengatakan ketidaksamaan opini beberapa Ulama mengenai orang yang mengaqiqahi dianya. Sebagian ulama menjelaskan jika beberapa beberapa Ulama melihat bolehnya seorang mengaqiqahi dirinya, bila ia mengetahui orang tuanya belum mengaqiqahinya.


Tetapi beberapa Ulama yang yang lain melihat jika aqiqah ditanggung cuma ke orangtua. Bila orangtua melaksanakan mengaqiqahi anaknya, karena itu ia memiliki hak memperoleh pahala. Bila tidak, karena itu ia tidak memperoleh pahala



Pengertian Aqiqah, Hukum, Dan Tatacaranya

Aqiqah atau Akekeah datang dari bahasa Arab "'aqiqah" yang mempunyai beberapa arti. Salah satunya memiliki makna rambut kepala bayi yang sudah tumbuh saat lahir, atau hewan sembelihan yang diperuntukkan bagi peringatan dicukurnya rambut seorang bayi.


Apakah Hukum Melaksanakan Aqiqah Bagi Yang Tidak Mampu
Apakah Hukum Melaksanakan Aqiqah Bagi Yang Tidak Mampu


Jika bayi itu lelaki, karena itu hewan sembelihannya berbentuk dua ekor kambing. Jika wanita, karena itu cukup hanya satu ekor kambing saja. Disamping itu, aqiqah dapat memiliki makna sebuah upacara peringatan atas dicukurnya rambut seorang bayi.


Dalam sejarahnya, adat aqiqah sebagai peninggalan dari adat Arab pra Islam yang dikerjakan dengan menyembelih hewan kambing di saat bayi lahir yang selanjutnya darahnya dibalurkan ke kepala sang bayi.


Sesudah Islam tiba, selanjutnya praktek itu diganti dengan memolesi kepala sang bayi dengan minyak. Aqiqah dalam Islam tidak membandingkan bayi lelaki dan wanita. Tidak seperti adat Arab pra Islam yang cuma mengutamakan Aqiqah bagi bayi lelaki. (Nasarudin Umar, 2002: 98)


Pada umumnya, hewan (kambing) yang akan disembelih pada acara Aqiqah tidak berbeda jauh dari berkurban pada hari raya idul adha. Baik dari tipe, umur hewan, tidak cacat, niat dalam pemotongan hewan dan menyedekahkan daging (yang sudah masak) ke beberapa fakir miskin.


Hukum Penerapan Aqiqah

Dalam hukum Islam (fikih), Aqiqah dikerjakan berdasar hadits dari Samrah bin Jundab yang mengatakan jika Nabi Muhammad SAW bersabda, "Tiap anak yang dilahirkan akan tumbuh jadi anak yang saleh dengan dibayar oleh binatang yang disembelih di hari ke-7 kelahirannya. Selanjutnya dicukur dan dinamakan yang baik. (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibn Majah dan AnNasai)


Dalam pahami hadits itu, beberapa ulama berlainan opini berkenaan hukum melaksanakan aqiqah. Beberapa dari mazhab Az-Zahiri memiliki pendapat jika hukum melaksanakan aqiqah ialah harus.


Dan menurut sebagian besar ulama hukumnya sunah. Sementara menurut Abu Hanifah hukum Aqiqah bukan harus dan bukan sunnah, melainkah cuma mubah (diperbolehkan). (Ibn Rushdi, 2008: 187)


Timbulnya ketidaksamaan opini berkenaan hukum Aqiqah ini menurut Ibn Rushdi dalam kreasinya dengan judul Bidayatul Mujtahid ialah karena ketidaksamaan dalam pahami hadits yang menjelaskan permasalahan Aqiqah, yakni jika secara tekstual hadits kisah Samrah yang memperlihatkan jika Aqiqah ialah harus. (Ibn Rushdi, 188)


Dalam penerapan Aqiqah, beberapa ulama berlainan opini berkenaan kapan Aqiqah diadakan. Beberapa ulama mengatakan jika aqiqah dikerjakan saat sebelum hari ke-7 sesudah kelahiran sang bayi.


Imam Syafi'i sendiri memiliki pendapat jika aqiqah bisa dikerjakan baik saat sebelum atau setelah hari ke-7 kelahiran sang bayi sampai ia berpikiran baligh. Dalam acara aqiqah ini, disarankan juga untuk memberikan nama sang bayi. (Zainudin Ali Al-Malaybari, 382)


Secara struktural, acara aqiqah disaksikan dari kandungan kekuatan orangtua sang bayi dalam realisasinya terdiri jadi lima tingkatan secara berurut:


  • Bila di hari awal kelahiran sang bayi sampai hari ke-7 orangtua sang bayi mampu secara ekonomi untuk melaksanakan aqiqah, karena itu seharusnya selekasnya dilaksananakan. Tetapi, bila sampai hari ke-7 belum mampu, karena itu bisa dikerjakan sampai periode nifas ibu bayi usai, yaitu dalam periode 60 hari.
  • Bila sesudah ibu bayi usai nifas dan belum mampu melaksanakan aqiqah , karena itu aqiqah bisa dikerjakan sampai usainya periode menyusui (radha'ah), yaitu umur dua tahun.
  • Bila sampai pada periode menyusui belum juga mampu melaksanakan aqiqah, karena itu disarankan supaya aqiqah dikerjakan sampai anak berumur tujuh tahun.
  • Bila sampai berumur tujuh tahun dan belum mampu melaksanakan aqiqah karena itu dipersilahkan beraqiqah sampai anak berumur saat sebelum baligh.
  • Bila sampai berumur baligh dan orangtua tidak mampu melaksanakan Aqiqah , karena itu sang anak dipersilahkan untuk lakukan aqiqah untuk dirinya.(KH. Muhammad Solikin, 2010: 147-148)


Aqiqah di Indonesia

Pada intinya, Aqiqah ialah sisi dari tuntunan Islam. Meskipun begitu, adat aqiqahan yang berjalan di Indonesia mempunyai kekhasan tertentu. Ini seperti yang terjadi, misalkan di suku Bugis Makassar. 


Sukuran aqiqahan di wilayah itu benar-benar kental dengan arti pengamanan lingkungan dan pesan kepribadian supaya menyaksikan dalam sudut pandang periode panjang sampai ke lintasi angkatan, bukan berpikiran secara instant hingga kelahiran sebuah angkatan tidak menghancurkan atau memberatkan alam sekitaran sekalian jaga adat bergotong-royong dan memiara kekeluargaan.


Acara sukuran aqiqahan di Makassar kelihatan ketidaksamaan syarat bagibayi yang masih keluarga bangsawan dengan gelar; karaeng, andi, atau daeng, dengan warga biasa.


Sebagai anak yang masih mempunyai darah bangsawan suku Makassar, dia diharuskan untuk menyiapkan 29 bibit kelapa. Pada acara aqiqahan itu, bibit kelapa dihias dengan cantik dan ditempatkan dalam kamar bayi. Beras yang ditempatkan dalam baskom dihias dengan wujud kepala manusia.


Penanaman kelapa ini sebagai usaha supaya bayi yang baru lahir sudah disiapkan beberapa dari kehutuhan hidupnya. Kelapa, buah yang berguna dari akar sampai ujung daun itu akan berbuah saat bayi telah mencapai remaja yang hasilnya dapat digunakan untuk tuntutan hidupnya.


Ada pesan kepribadian yang penting jika segala hal sudah disiapkan bagi kehidupan bayi dalam sudut pandang periode panjang dan tidak menghancurkan alam.


Disamping itu disiapkan juga sebuah kelapa muda yang dibuka dan airnya dipakai untuk membasahi gunting buat menggunting rambut si bayi.


Kelapa muda menyimbolkan sebuah kesegaran, kemuda an, dan kesehatan yang diharap selalu mengikuti kehidupan anak yang dilahirkan itu. Sebelas lilin kecil sebagai lambang supaya hidupnya selalu diliputi jalan jelas.


Dua potong gula merah disiapkan sebagai simbolisasi supaya kehidupan anak itu selalu manis, membahagiakan, dan penuh keceriaan. Ditambahkan juga dengan 2 buah pala yang berisi pengharapan supaya bayi itu dapat berguna bagi seseorang. Dia akan ada selalu saat seseorang memerlukannya.


Tidak ketinggal, sebuah tasbih dengan sebuah cincin emas yang di celupkan ke air selanjutnya disentuhkan di dahi memperlihatkan supaya tuntunan agama sering jadi pegangan dalam semua hidupnya. Untuk menambahkan situasi, dihidupkan juga dupa untuk aroma dalam acara cukur rambut bayi yang dilaksanakan oleh dukun bayi terbiasa yang sudah menolong menjaga bayi.


Bagi dukun bayi, mereka dikasih sedekah berbentuk 12 jenis tipe kue yang ditempatkan pada sebuah nampan, 8 ltr beras dan uang 20 ribu rupiah yang dibawa pulang sesudah acara itu usai. Ari-ari yang sebagai anggota badan bayi saat dilahirkan jadi sisi penting. Sesudah dicuci, ari-ari itu ditanamkan dengan keinginan supaya bayi itu selalu ingat akan desa halaman di mana dia dilahirkan.


Pembacaan barasanji atau syair barzanji umum diadakan saat malam aqiqahan. Dalam acara itu rambut bayi dipotong dan ada juga pembagian wangi-wangian ke jemaah yang membacakan syair-syair sanjungan ke Rasulullah. Pembacaan barzanji ini wujud upacaranya serupa marhabanan (perayaan mauludan mengingati kelahiran Nabi).


Saat beberapa peserta dan undangan melanunkan marhaban ataupun waktu mahallul qiyam (berdiri) si ayah dari sang bayi ini bawa sang bayi ke tengahnya peserta, dituruti seorang lain yang menolong membawa baki berisi bunga, aroma, dan gunting.


Tamu yang paling disegani memulai secara simbolik dengan cukur beberapa lembar rambut bayi, selanjutnya ayah bawa bayi ke tamu lain secara bergilir satu demi satu, dan masing-masing tamu bergiliran cukur secara simbolik saja.


Sementara pembawa aroma bekerja menyekakan aroma ke tangan orang yang baru mendapatkan gantian. Jika semuanya sudah memperoleh gantian, bayi dibalikkan ke ruang tidur. (Muhaimin, 206)


Menurut Martin, text keagamaan yang terpopuler di semua Nusantara, yang cuma kalah terkenal dengan al-Qur'an, ialah kreasi yang dikenali sebagai barzanji. Sebuah kitab mawlid yang dibaca oleh warga Nusantara tidak cuma disekitaran tanggal 12 Rabi' al-Awwal, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW., tapi juga pada banyak upacara yang lain: pada beragam upacara yang ikuti daur kehidupan manusia seperti pemangkasan rambut seorang bayi untuk pertamanya kali (aqiqah), pada kondisi kritis, sebagai sisi dari ritus untuk menyingkirkan setan, atau dengan teratur dijadikan sisi dari wiridan berjemaah yang dilaksanakan dengan teratur. (Martin, 2015: 22)


Berlainan dari adat aqiqah di Bugis, adat aqiqah yang berkembang di Minangkabau. Dalam acara aqiqah di Minangkabau daging kambing diolah tanpa tinggalkan santan, cabai merah dan bumbu-bumbu yang lain. Proses mengolah kambing aqiqah saat ini umumnya diberikan ke restaurant atau mereka yang khusus mengolahan daging aqiqah.


Sesudah masak gulai kambing yang berkuah kental dan sedap itu disedekahkan. Tetapi keluarga yang punyai hajat bisa menikmatinya. Dipegang Ustadz atau guru mengaji acara di awali dengan membaca ayat-ayat al-Qur'an. Dituruti oleh doa-doa keselamatan bagi si anak.


Keinginannya, Insya Allah anak akan tumbuh jadi individu saleh, terbebas dari masalah setan dan binatang buas. supaya dijaga dianya dari semua penglihatan yang akan menghancurkan hidupnya nantinya.


Dari sisi peralatan acara aqiqah kelihatan kelapa muda berhias bunga-bunga, madu, gula, garam dan cabai. Manfaat kelapa berair ini untuk memendam potongan rambut si anak. Perlahan Pak Ustad memasukkan setiap rambut yang di potongnya ke kelapa.


Keinginannya supaya nantinya bila hadapi permasalahan anak masih tetap berkepala dingin. Usai menggunting rambut, saat ini Pak Ustad memipil cabai dan bumbu-bumbu yang ada disana ke bibir sayang bayi. Ini ialah simbolisasi dari kehidupan yang akan dilaluinya nantinya. Jika hidup tidak selamanya manis. Ada yang pahit, asin dan pedas.


Penggolongan sosial juga terlihat dalam beberapa kegiatan ritus, tidak kecuali acara aqiqah. Bagi orang kaya, kemewahan acara ini benar-benar jelas. Bila anak yang dilahirkan ialah anak lelaki, karena itu mereka akan menyembelih dua kambing, tapi bila yang lahir ialah anak wanita, karena itu cukup hanya menyembelih seekor kambing.


Pemangkasan tulang kambing juga diakui, misalkan semua sisi kaki kambing tidak bisa dipotong. Pemangkasan cuma dilaksanakan pada bagian beberapa sendirnya saja. Kono ucapnya, bila tulang-tulang kambing itu dipotong secara asal-asalan maka berpengaruh penyakit linu nantinya di masa datang.


Dalam acara semacam ini, famili-kerabat dekat juga banyak yang datang untuk menolong penerapan ritus. Kesan-kesan kemewahan terlihat dalam karena yang dibawa pulang oleh peserta upacara. Erek (tempat nasi) dibuat dari plastik yang berkualitas bagus, jajan atau kue-kue dan buah-buahan yang dihidangkan berkualitas.


Dari acara aqiqah ini kelihatan terang jalinan di antara Islam dan adat lokal terikat berkelindan. Islam tidak menegasikan adat. Kebalikannya adat tidak menafikan tuntunan Islam. Ke-2 nya sama-sama lengkapi. Dengan karakternya yang plastis dan fleksibel itu, karena itu sangat lumrah jikamana gestur keberislaman di antara satu wilayah dengan wilayah lain mempunyai ketidaksamaan.


Karena budaya dan adat satu tempat tidak perlu sama dengan adat dan di lain tempat. Maka dari itu, dalam pahami keberislaman warga di Nusantara misalkan, tidak pas untuk selanjutnya dibanding dengan mode keberislaman warga Arab. Apa lagi memandang jika Islam Arab ialah Islam murni dan Islam Nusantara ialah Islam tepian.


Aqiqah di Zaman Modern

Di tengah-tengah arus modernisasi, acara aqiqah alami kurang lebih peralihan. Khususnya pada proses pemotongan hewan yang akan dijadikan aqiqah. Beberapa penyuplai jasa, telah menyaksikan ada prospect usaha dalam acara aqiqah.


Beberapa penyuplai jasa sediakan hewan sembelihan aqiqah sekalian siap untuk membagi dagingnya. Timbulnya penyuplai jasa semacam ini di satu segi memudahkan orang yang akan mengaqiqahkan putra-putrinya. Di lain sisi, ini pada gilirannya hilangkan beberapa acara dalam adat aqiqah yang sudah mengakar dalam masyarakat seperti adat barzanjian dan lain-lain.


Namun, berbeda dengan jasa Aqiqah Abah Husein Cilacap. Paket Jasa aqiqah yang kami sediakan merupakan jasa untuk membantu umat Islam dalam menyajikan hidangan aqiqah.


Orang tua muslim tinggal duduk manis dan khusu' mendoakan buah hatinya. Dan masalah aqiqah biar kami yang bekerja.


Dengan adanya pelayanan paket Aqiqah Abah Husein Cilacap ini tidak menghilangkan tradisi yang ada dimasyarakat. Karena dengan menyediakan pelayanan paket aqiqah, orang tua dapat melaksanakan acara Aqiqahan dengan khusu'


Demikian artikel mengenai apakah hukum melaksanakan aqiqah bagi yang tidak mampu? seperti yang telah dijelaskan diatas jawabannya adalah boleh, selagi orang tua belum mampu untuk melaksanakan aqiqah karena terbentur biaya.


Namun, jika sudah mampu alangkah menyegerakan ibadah aqiqah ini sesegera mungkin. Terimakasih semoga artikelnya bermanfaat, salam sukses selalu.

close