Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bolehkah Aqiqah Tanpa Pengajian, Jawabannya Adalah Sebagai Berikut

Daftar Isi [Buka]

Aqiqah merupakan ibadah sunah yang sebaiknya dilakukan sesegera mungkin jika keadaan financialnya mencukupi. Kalau bisa dimeriahkan dengan pengajian agar semakin banyak yang mendoakan, nah kalau jika tidak mampu bolehkah aqiqah tanpa pengajian?


Bolehkah Aqiqah Tanpa Pengajian
Bolehkah Aqiqah Tanpa Pengajian


Pada kesempatan kali ini Aqiqah Abah Husein Cilacap akan mengupasnya untuk ayah bunda sekalian perihak kebimbangan mengenai hukum melaksanakan aqiqah tanpa adanya pengajian, Bolehkah aqiqah tanpa pengajian?


Bolehkah Aqiqah Tanpa Pengajian

Disebutkan dalam sebah sebuah maqolah seorang ulama dari madzab Hambali, Al-Khorqi (Ulama Mazhab Hanbali) tata caranya seperti telah diterangkan. Maka dari itu tidak diberi persyaratan untuk (harus) dibagi-bagikan dengan 3 pembagian (ke keluarga, tetangga, dan yang minta), namun bisa dibagi-bagikan sepertiganya, atau separuhnya, atau dikonsumsi semua atau disedekahkan semua, atau dibuatkan pesta acara / perhelatan dari aqiqah itu.


فكما قال الخرقي: وسبيلها على ما تقدم، فلا يشترط أن توزع على ثلاثة أقسام، بل يجوز أن يوزعها أثلاثاً، أو نصفين، أو أن يأكلها كلها، أو أن يتصدق بها كلها، أو أن يعمل عليها وليمة


لكل الأفضل أن يأكل منها ويتصدق


Pokok dari dalil diatas yang paling penting dalam aqiqah supaya dikonsumsi sebagiannya dan disedekahkan sebagiannya.


فقد جاء في الأدب المفرد بإسناد صحيح أن معاوية بن قرة قال : لما وُلِدَ لي إياس ، دعوت نفراً من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فأطعمته، فدعَوا، فقلت:


" إنكم قد دعوتم فبارك الله لكم فيما دعوتم ، وإني أدعو بدعاء فأمنّوا، قال : فدعوت له بدعاء كثير في دينه وعقله وكذا، قال: فإني لأتعرف فيه دعاء يومئذٍ "


Namun disebut di kitab Al-Adab Al-Mufrod (kitab tulisan Imam Bukhori) dengan sanad yang shohih, sesungguhnya Mu'awiyah bin Qrroh berbicara: Saat Iyyas dilahirkan, saya mengundang banyak teman dekat Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam.


Namun disebut jika dalam mazhab Malikiyah dibenci membuat acara perhelatan / pengajian aqiqah. Namun pada kasus ini ada keluasan terhadapnya, ada yang menyebutkan bolehkah aqiqah tanpa pengajian, jawabannya boleh, ada juga apakah aqiqah boleh dengan pengajian, jawabannya juga boleh.


Yang terpenting dari aqiqah yang telah dijelaskan diatas adalah keikhlasan melaksanakan perintah baginda Nabi SAW.


Aqiqah itu dibagi sepertiga-sepertiga untuk keluarga, untuk tetangga, yang meminta (disedekahkan) atau digunakan semua untuk membikin mengundang beberapa orang makan.


Kesimpulan Masalah Bolehkah Aqiqah Tanpa Pengajian

Dari keterangan diatas sudah sangat jelas menjawab pertanyaan bolehkan aqiqah tanpa pengajian. Kalau ibadah aqiqah bisa dilaksanakan dengan tanpa pengajian.


Yang paling penting dari Aqiqah adalah rasa bersyukur kita kepada Allah SWT denga menyembeli kambing sesuai dengan syariat yang berlaku. Tanpa dan atau menggunakan pengajian, namun bisa diganti dengan mengundang handai taulan, sanak family, tetangga, fakir miskin, anak yatim, untuk ikut merasakan kebahagian dengan diberikan daging yang untuj aqiqah tersebut.


Agar supaya pelaksanaan aqiqah ini bisa lebih baik. Mari simak bagaimana tatacara pelaksanaannya yang menurut Rasulullah SAW.



Cara Menggelar Aqiqah yang Disunahkan Rasulullah SAW

Aqiqah, wujud rasa sukur atas kelahiran Sang Kecil supaya mendapatkan karunia. Kelahiran Sang Kecil pasti bawa kebahagiaan, ya, Mam. Ada satu serangkaian dalam Islam dalam menyongsong kelahiran, yaitu aqiqah.


Jauh-beberapa hari saat sebelum hari lahir datang, sebaiknya Ayah dan Bunda menyiapkan bujet-nya. Tidak cuma untuk ongkos kelahiran dan semua peralatan Sang Kecil, karena ada bujet yang dikeluarkan untuk lakukan aqiqah.


Aqiqah bisa disimpulkan sebagai wujud rasa sukur ke Allah SWT atas kelahiran bayi. Rasa sukur itu direalisasikan dengan menggunting kambing dan dibagi ke saudara, tetangga, dan mereka yang memerlukan.


Aqiqah sering disamakan seperti pemangkasan hewan kurban saat Idul Adha, tetapi pasti niat dan tata langkah realisasinya mempunyai ketidaksamaan.


Hukum Aqiqah untuk Bayi Baru Lahir

Secara bahasa, aqiqah mempunyai makna "menggunting" yang dari bahasa arab "al-qat'u". Ada pengertian lain aqiqah yakni nama rambut bayi yang baru dilahirkan.


Menurut istilah, aqiqah ialah proses aktivitas menyembelih hewan ternak di hari ke-7 sesudah bayi dilahirkan.


Berdasar tafsiran mayoritas ulama yang dipandang terkuat, aqiqah hukumnya ialah sunnah muakad. Aqiqah jadi beribadah yang perlu dan diprioritaskan.


Jika sanggup untuk melakukan, orang-tua benar-benar disarankan untuk lakukan aqiqah anaknya saat bayi. Tetapi, untuk yang tidak sanggup untuk melakukannya juga aqiqah bisa ditinggal tanpa berdosa.


Diriwayatkan Al-Hasan dari Sammuroh rodhiyallahu 'anhu, jika Rasulullah SAW bersabda:


"Semua anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelihkan di hari ke-7 , dicukur rambutnya, dan diberi nama." (HR Ahmad 20722, At-Turmudzi 1605 dan dipandang shahih oleh Al-Albani).


Ini ialah hadist yang terkuat mengenai disyariatkannya aqiqah. Syariat untuk lakukan aqiqah cuma bisa Mam dapatkan di hadist-hadist Nabi Muhammad SAW, dan tidak ditemui dalam ayat Al Qur'an.


Walau tidak ada Al-Qur'an, para ulama memberi keterangan jika seorang muslim tidak membeda-bedakan ketentuan dalam Al Quran dan hadist. Ini karena kita diperintah untuk patuh ke Nabi Muhammad SAW seperti kita patuh ke Allah dan ayat-ayat Al Qur'an.


"Aqiqah jadi satu perihal yang paling terkenal dan tidak dipisahkan di tengah kehidupan beragama golongan muslimin.


Dan beberapa ulama di periode salaf membenci dan tidak menyenangi mereka yang dapat lakukan aqiqah tetapi tinggalkan syariat aqiqah.


Kapan Waktu yang Tepat Untuk Aqiqah

Untuk saat penerapan aqiqah, para ulama menjelaskan, umumnya dilaksanakan di hari ke-7 dari kelahiran bayi. Ini berdasar hadist Rasulullah SAW.


Diriwayatkan Samurah bin Jundub Ra, Rasulullah SAW bersabda, "Tiap bayi diagunkan oleh aqiqahnya yang disembelih buatnya pada hati ke-7 , lalu dicukur dan dinamakan." (HR. An-Nasa'i).


Melihat dari hadist shahih mengenai aqiqah di atas, waktu untuk lakukan aqiqah pada Sang Kecil disarankan di hari ke-7 sesudah kelahirannya.


Langkah hitung hari ke-7 dengan mengikutkan hari kelahirannya. Contoh, bila Sang Kecil terlahir di hari Senin, karena itu aqiqah bisa dilaksanakan pada hari Minggu selanjutnya.


Lalu, bagaimana bila tidak dapat melakukan aqiqah pas di hari ke-7 ? Apa dapat dihari yang lain?


Dalam sebuah hadist disebutkan, "Pemotongan hewan aqiqah dapat hari yang ketujuh, hari ke-14, atau hari ke-21." Hadist ini dipandang seperti hadist yang shahih oleh beberapa ulama.


Tata langkah aqiqah pada hari ke-7 kelahiran memanglah bukan harga mati, ya. Hari ke-7 sesudah kelahiran dipandang seperti saat yang paling afdol.


Bila tidak mungkin dilaksanakan di hari itu karena masih capek dan tidak sempat mengurusinya, aqiqah dapat dilaksanakan pada hari ke-14 atau ke-21. Bila tetap tidak juga bisa, karena itu aqiqah bisa dikerjakan kapan pun.


Aqiqah bisa dilaksanakan sampai ada kekuatan, bahkan juga apabila sudah dewasa sekalinya. Nabi SAW juga mengaqiqahi dirinya saat Beliau sudah diutus jadi seorang Nabi.


Riwayat ini jadi dasar diperbolehkannya seorang untuk mengaqiqahi dirinya jika orang tuanya belum mengaqiqahi saat kecil atau mungkin tidak mempunyai kekuatan karena itu.


Tata Cara Aqiqah Anak Laki-laki dan Perempuan

Selekasnya ketahui tata cara melakukan aqiqah agar Ayah dan Bunda dapat menyiapkan waktu dan bujet untuk melangsungkan aqiqah.


Ketika telah berniat untuk mengaqiqahi Sang Kecil, ada sesuatu hal yang penting jadi perhatian, khususnya untuk jumlah kambing yang hendak disembelih.


Dari hadist diriwayatkan, "Siapa dari kalian yang menyukai menyembelih atas kelahiran anak karena itu lakukan, anak laki dua ekor kambing yang cukup persyaratan, anak wanita dengan 1 ekor" (HR Ahmad, Abu Dawun, An-Nasaa-i).


Sebenarnya tata langkah penerapan aqiqah anak perempuan dan laki-laki sama juga. Hal yang membandingkannya hanya dalam jumlah hewan yang disembelih.


Pada anak lelaki harus sejumlah 2 ekor kambing yang sekufu atau ke-2 nya serupa (sama umurnya, sama macamnya, sama ukuran). Bila berbeda tepat, minimal dekati. Dan, untuk anak wanita jumlah hewan aqiqah cuma 1 kambing saja.


Bolehkah bila aqiqah selainnya hewan kambing?

Sapi atau unta dibolehkan dengan persyaratan cuma 1 unta atau 1 sapi untuk satu orang anak saja.


Tetapi, beberapa ulama memiliki pendapat bila aqiqah yang dibolehkan cuma menggunakan kambing saja karena sesuai alasan Rasulullah SAW.


Saat menyembelih, ada sesuatu hal yang perlu jadi perhatian yaitu tidak memutus tulang dari sembelihan dengan makna yang terdapat ialah tafa'ul atau mengharap akan keselamatan badan dan anggota tubuh dari anak itu.


Sesudah proses pemotongan hewan aqiqah dan membagikan ke sanak saudara, tetangga, dan orang yang memerlukan, janganlah lupa untuk cukur rambut Sang Kecil dan menamai yang bagus seperti sabda Nabi SAW.


Mencuplik situs Dalam Islam, sesudah menggunting rambut, karena itu diteruskan kembali dengan masukkan suatu hal yang manis ke mulut bayi.


Beberapa Teman dekat mempunyai rutinitas bayi yang barusan lahir langsung akan dibawa ke hadapan Rasulullah SAW.


Beliau selanjutnya akan memerintah untuk diambilkan kurma lalu mengunyahnya sampai lembut. Selanjutnya, beliau akan ambil sedikit dari mulutnya lalu memberinya ke dalam mulut bayi dengan sentuh langit-langit mulut bayi hingga langsung akan disedot.


Gula atau makanan manis dari ini yaitu karbohidrat atau glukosa, di mana sebagai sumber kemampuan dari fisik dan ludah dari Rasulullah SAW yang hendak memberi karunia. Sunnah ini lalu dilanjutkan oleh kaum muslim yaitu dengan mentahnikkan bayi pada beberapa ulama.


Membagikan Aqiqah dengan Daging Mentah

Sekarang ini, kita banyak menemui, ya, Mam, beberapa tempat pemotongan hewan aqiqah yang sekalian mengolah dan membuat hantaran berbentuk nasi kotak dengan beragam masakan daging kambingnya.


Ini benar-benar ringkas dan tidak mengambil alih waktu Mam untuk menyiapkannya. Dan seperti dalam berkurban, faksi keluarga juga dikenankan untuk makan daging aqiqah.


Walau tidak biasa, tetapi rupanya hasil sembelihan aqiqah juga bisa diberi pada keadaan mentah. Membagi aqiqah pada keadaan daging mentah diterangkan oleh Imam Ibu Baz.


Aqiqah yang sama sesuai syariat dan yang diberikan dalam sunah sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah hewan yang disembelih untuk kelahiran anak di hari ke-7 .


Dua ekor kambing aqiqah untuk anak lelaki dan satu ekor kambing untuk anak wanita.


Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah meng-aqiqahi Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhu. Dan sohibul aqiqah bisa pilih, bisa membagikan berbentuk daging (mentah) ke beberapa famili, teman atau orang miskin.


Juga bisa ia masak, selanjutnya mengundang famili, tetangga, atau orang miskin yang ia harapkan. (Majmu' Fatawa Ibnu Baz, 4/262).


Aqiqah saat Anak Sudah Dewasa

Ini jadi pertanyaan yang kerap dilemparkan oleh beberapa orang. Bagaimana bila aqiqah dilaksanakan saat anak telah dewasa atau terlanjur besar?


Menurut pendapat beberapa ulama, jika orang tuanya dulu ialah orang yang tidak sanggup di saat waktu disarankannya aqiqah, karena itu dia tidak punyai kewajiban apapun meskipun kemungkinan kemudian dia telah sanggup untuk aqiqah.


Seperti jika seorang miskin saat waktu pensyariatan zakat, karena itu dia tidak diharuskan keluarkan zakat, walau kemudian keadaannya serba cukup.


Maka jika kondisi orang tuanya tidak sanggup saat pensyariatan aqiqah, kewajiban aqiqah jadi luruh karena dia tidak mempunyai kekuatan.


Dan bila orang tuanya sanggup semenjak anak lahir, tetapi dia tunda aqiqah sampai anaknya dewasa, karena itu pada waktu itu anaknya masih tetap diaqiqahi meskipun telah dewasa.


Begitupun hadits berbicara:


"Bila seorang anak tidak diaqiqahi, karena itu dia tidak memberikan syafaat ke orang tuanya di hari kiamat kelak."


Imam Asy Syafi'i berpendapat jika aqiqah masih tetap disarankan meskipun diakhirkan. Tetapi dianjurkan supaya tidak diakhirkan sampai umur baligh.


Bila aqiqah diakhirkan sampai umur baligh, kewajiban orangtua jadi luruh. Namun saat itu, anak punyai opsi, bisa mengaqiqahi dirinya atau mungkin tidak. (Shahih Fiqih Sunnah, 2/383)


Nach, telah memahami kan saat ini mengenai langkah cara mengadakan aqiqah untuk bayi tersayang? kalau ayah bunda mampu untuk mengadakan pengajian boleh saja dilakukan. Namun bisa secara financial hanya mampu untuk melaksanakan aqiqah, Bolehkah aqiqah tanpa pengajian jawabannya Boleh.

close